Hari Anak Nasional 2026: Psikolog UPI Y.A.I Bagikan Cara Mahasiswa Baru Berdamai dengan Masa Lalu dan Siap Menyambut Dunia Ku

Hari Anak Nasional 2026: Psikolog UPI Y.A.I Bagikan Cara Mahasiswa Baru Berdamai dengan Masa Lalu dan Siap Menyambut Dunia Ku

Memasuki usia 18 tahun merupakan fase penting dalam kehidupan seseorang. Di usia ini, banyak anak Indonesia mulai melangkah ke dunia perkuliahan dengan berbagai harapan sekaligus kekhawatiran. Tidak sedikit mahasiswa baru yang merasa menyesal terhadap keputusan di masa SMA, bingung menghadapi perubahan, hingga cemas menjalani kehidupan kampus.

Dalam momentum Hari Anak Nasional 2026, kesiapan mental menjadi salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian. Sebab, perjalanan menuju perguruan tinggi bukan hanya tentang kesiapan akademik, tetapi juga tentang kemampuan menerima diri, beradaptasi, dan membangun masa depan.

Menurut Ibu Farah Dwi Anjarsari, PJS Direktur Lembaga Konsultasi dan Psikologi Terapan UPI Y.A.I, masa transisi dari SMA menuju perguruan tinggi memang menjadi periode yang penuh tantangan secara psikologis.

Mengapa Penyesalan Sering Muncul Saat Memasuki Dunia Kuliah?

Farah menjelaskan bahwa memasuki perguruan tinggi berarti seseorang mulai meninggalkan masa remaja akhir dan memasuki fase dewasa awal. Pada tahap ini, mahasiswa mulai dihadapkan pada tanggung jawab yang lebih besar, mulai dari menentukan arah pendidikan, karier, hingga kehidupan mandiri.

Rasa penyesalan umumnya muncul karena beberapa hal, seperti:

  • Kurang mengenali potensi diri selama masa SMA.
  • Terlalu mengikuti lingkungan atau pergaulan yang kurang positif.
  • Memilih jurusan hanya karena mengikuti teman atau tekanan dari sekitar.
  • Merasa kehidupan yang dijalani tidak sesuai dengan rencana sebelumnya.

Namun, menurut Farah, penyesalan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk membuat keputusan yang lebih baik di masa depan.

Berdamai dengan Masa Lalu Dimulai dari Menerima Diri

Salah satu langkah penting untuk keluar dari penyesalan adalah menerima bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana.

Farah mengajak mahasiswa untuk mengubah cara pandang terhadap kegagalan. Apa yang terjadi di masa lalu bukan semata-mata kesalahan diri sendiri karena banyak faktor yang memengaruhi perjalanan hidup seseorang.

Sebagai gantinya, mahasiswa dianjurkan mulai menyusun:

  • Rencana jangka pendek dan jangka panjang.
  • Target akademik yang realistis.
  • Pengembangan kemampuan di luar perkuliahan, seperti bahasa asing, teknologi, organisasi, maupun komunikasi.

Dengan begitu, pengalaman masa lalu berubah menjadi pelajaran, bukan beban.

Inner Child Tetap Perlu Disapa Meski Sudah Berusia 18 Tahun

Banyak orang menganggap bahwa setelah berusia 18 tahun, seseorang sudah sepenuhnya dewasa. Namun menurut Farah, pengalaman masa kecil tetap memiliki pengaruh terhadap kondisi psikologis seseorang.

Konsep inner child menjadi penting terutama bagi mereka yang semasa kecil pernah merasa:

  • Tidak diterima.
  • Kurang mendapatkan kasih sayang.
  • Tidak dihargai.
  • Kesepian.
  • Mengalami pengalaman traumatis.

Untuk menyapa inner child, Farah menyarankan beberapa langkah sederhana, yaitu:

  • Menerima seluruh emosi tanpa menyalahkan diri sendiri.
  • Memaafkan orang lain yang pernah melukai.
  • Memaafkan diri sendiri.
  • Membayangkan diri kecil mendapatkan rasa aman, kasih sayang, dan perhatian yang mungkin dahulu belum dirasakan.

Langkah-langkah tersebut membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri.

Cara Mengapresiasi Diri Sebelum Memulai Kehidupan Kampus

Banyak mahasiswa baru merasa belum berhasil karena tidak diterima di kampus impian atau jurusan yang diinginkan. Padahal, menurut Farah, berhasil mencapai titik memulai kuliah merupakan pencapaian yang layak dirayakan.

Ia mengajak mahasiswa untuk mulai mengucapkan terima kasih kepada diri sendiri atas semua usaha yang telah dilakukan.

Selain itu, memberikan self-reward sederhana juga penting sebagai bentuk apresiasi, misalnya:

  • Menikmati makanan favorit.
  • Minum kopi bersama teman.
  • Menonton film.
  • Jalan-jalan bersama keluarga.
  • Membeli barang kecil yang diinginkan.

Perayaan kecil seperti ini menjadi bentuk penghargaan terhadap proses, bukan hanya hasil akhir.

Cemas Itu Wajar, Overthinking Berbeda

Perubahan lingkungan hampir selalu memunculkan rasa cemas. Mahasiswa baru mungkin khawatir menghadapi teman baru, dosen, maupun sistem perkuliahan yang berbeda.

Farah menjelaskan bahwa kecemasan justru dapat menjadi hal positif apabila mendorong seseorang melakukan persiapan.

Sebaliknya, overthinking muncul ketika seseorang terus memikirkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi, seperti takut tidak memiliki teman, takut dosen galak, atau takut gagal sebelum mencoba.

Kecemasan yang proporsional membantu seseorang lebih siap, sedangkan overthinking justru menguras energi dan menghambat proses adaptasi.

Jangan Terjebak dalam Survival Mode Selama Kuliah

Tidak sedikit mahasiswa yang menjalani kuliah dengan tekanan tinggi karena ingin selalu sempurna. Padahal, menurut Farah, perfeksionisme sering menjadi penyebab utama stres berkepanjangan.

Mahasiswa perlu memahami bahwa kehidupan kampus memiliki ritme yang seimbang antara masa kuliah, ujian, dan waktu libur.

Beberapa cara menjaga kesehatan mental selama kuliah antara lain:

  • Beristirahat ketika tubuh mulai lelah.
  • Tidak memaksakan diri melakukan banyak hal sekaligus.
  • Tetap menjalankan hobi.
  • Menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga.
  • Memanfaatkan masa libur untuk relaksasi.

Menjaga keseimbangan antara belajar dan beristirahat menjadi bagian penting dari keberhasilan selama menjalani pendidikan tinggi.

Tiga Fondasi Mental yang Harus Dimiliki Mahasiswa Baru

Menutup wawancara, Farah menyampaikan bahwa terdapat tiga fondasi utama yang perlu dimiliki setiap mahasiswa baru sebelum memasuki kelas pertamanya.

1. Motivasi

Mahasiswa perlu memiliki alasan yang kuat mengapa ingin belajar dan mencapai cita-cita.

2. Perencanaan

Menyusun tujuan pendidikan secara jelas akan membantu mahasiswa tetap fokus menghadapi berbagai tantangan selama kuliah.

3. Tekad dan Niat

Perencanaan yang baik tidak akan berjalan tanpa tekad dan komitmen untuk terus belajar serta berkembang.

Selamat Hari Anak Nasional 2026

Dalam rangka Hari Anak Nasional 2026, Farah berharap seluruh anak Indonesia dapat memperoleh kesempatan pendidikan yang terbaik hingga jenjang perguruan tinggi.

"Saya sangat berharap teman-teman mahasiswa bisa mencapai cita-citanya sesuai harapan dan keinginannya. Pilihlah jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat, kemudian jalani dengan penuh cinta serta rasa percaya diri," tutup Farah.

Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki perjalanan yang berbeda. Tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali, memperbaiki langkah, dan menyiapkan masa depan yang lebih baik. Dengan kesiapan mental yang sehat, mahasiswa baru dapat menghadapi dunia perkuliahan sebagai ruang untuk bertumbuh, belajar, dan mewujudkan impian mereka.

Share:

Tags: Hari Anak Nasional 2026,Hari Anak Nasional,mahasiswa baru,kesiapan mental mahasiswa,kesehatan mental mahasiswa,transisi SMA ke kuliah,tips mahasiswa baru,psikologi mahasiswa,psikolog UPI Y.A.I,Lembaga Konsultasi dan Psikologi Terapan UPI Y.A.I,inner child