Desain Arsitektur Bukan Sekadar Indah: Dosen Arsitektur UPI Y.A.I Tekankan Pentingnya Konsep dan Proses

Desain Arsitektur Bukan Sekadar Indah: Dosen Arsitektur UPI Y.A.I Tekankan Pentingnya Konsep dan Proses

Desain Arsitektur Bukan Sekadar Indah: Dosen Arsitektur UPI Y.A.I Tekankan Pentingnya Konsep dan Proses

JAKARTA – Dalam dunia arsitektur, desain yang menarik secara visual sering kali menjadi perhatian utama. Namun, menurut dosen arsitektur Dr. Euis Puspita Dewi, S.T., M.Si., sebuah karya arsitektur tidak cukup hanya terlihat indah. Desain yang baik harus memiliki identitas kuat, konsep matang, dan mampu menjawab kebutuhan serta konteks di sekitarnya.

Sebagai dosen arsitektur di Universitas Persada Indonesia Y.A.I, Bu Euis menilai bahwa identitas dalam desain lahir dari proses berpikir yang bertanggung jawab, bukan sekadar mengejar estetika.

Desain yang kuat identitasnya bukan hanya bagus dilihat atau baik secara visual, tetapi desain yang bertanggung jawab. Di balik desain itu harus ada alasan yang kuat,” ujarnya dalam sesi wawancara.

Menurutnya, sebuah rancangan arsitektur harus mampu merespons berbagai aspek penting, mulai dari isu lingkungan, kebutuhan pengguna, karakter lokasi, hingga kondisi iklim. Dengan demikian, desain tidak hanya tampil menarik, tetapi juga memiliki makna dan fungsi yang jelas.


Maket Harus Menjadi Media Komunikasi Ide

Dalam proses pembelajaran arsitektur, maket menjadi salah satu elemen penting yang digunakan mahasiswa untuk menyampaikan konsep desain. Bu Euis menegaskan bahwa maket bukan sekadar formalitas tugas akhir atau pajangan semata.

Ia menjelaskan bahwa aspek paling utama dalam penilaian maket adalah kemampuan mahasiswa menyampaikan konsep dan gagasan desain secara jelas.

Maket harus mampu mengomunikasikan apa yang ingin disampaikan mahasiswa,” jelasnya.

Meski demikian, kerapihan dan detail tetap memiliki peran penting. Menurutnya, detail pada maket dapat memperkuat pesan desain sehingga ide yang dibangun lebih mudah dipahami oleh dosen maupun audiens.

Dalam penilaiannya, penyampaian konsep menjadi prioritas utama, kemudian diikuti oleh kerapihan dan detail yang mendukung keseluruhan gagasan desain.


Konsep Matang Lahir dari Proses yang Runtut

Lebih lanjut, Bu Euis menjelaskan bahwa konsep desain yang matang tidak muncul secara tiba-tiba. Sebuah karya arsitektur yang baik harus melalui proses panjang mulai dari pengembangan ide, analisis, penyusunan konsep, hingga implementasi ke dalam keputusan desain.

Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa proses berpikir dalam arsitektur harus runtut dan dapat dipertanggungjawabkan.


Desain yang matang bukan hanya dilihat dari hasil akhirnya saja, tetapi dari bagaimana proses berpikir dan analisisnya dilakukan,” katanya.


Ia juga menekankan bahwa konsep arsitektur harus mampu diwujudkan secara realistis, bukan hanya sebatas ide besar yang sulit direalisasikan.

Jangan Takut Dikritik Saat Proses Asistensi

Ketika ditanya mengenai pesan yang ingin ia sampaikan jika kembali menjadi mahasiswa, Bu Euis mengaku akan mendorong dirinya untuk terus bereksplorasi dan tidak cepat puas dengan ide pertama.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak takut menerima kritik maupun masukan dari dosen pembimbing. Menurutnya, proses asistensi merupakan bagian penting dari pembelajaran arsitektur.

Sering kali mahasiswa menganggap kritik sebagai kegagalan, padahal justru dari proses tersebut kemampuan desain dapat berkembang lebih baik.

Dalam proses asistensi itulah sebenarnya pembelajaran terjadi,” ungkapnya.

Karena itu, mahasiswa diharapkan aktif memanfaatkan proses bimbingan agar mampu menghasilkan karya yang lebih matang dan memiliki tanggung jawab desain yang kuat.

Mahasiswa Arsitektur Harus Siap Menjalani Proses

Di akhir wawancara, Bu Euis memberikan motivasi kepada mahasiswa arsitektur untuk tetap semangat menjalani proses perkuliahan meskipun jurusan arsitektur dikenal menantang dan penuh tantangan.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan dalam arsitektur tidak bisa dicapai dengan cara instan. Mahasiswa harus siap menjalani tahapan mulai dari survei lapangan, analisis, simulasi desain, hingga penyusunan konsep yang realistis dan dapat diwujudkan.

Menurutnya, proses studio sejak semester awal hingga tugas akhir merupakan bekal penting bagi mahasiswa untuk nantinya dapat berkontribusi nyata di masyarakat melalui karya arsitektur.

Kalau memang punya passion di arsitektur, terus semangat dan jangan patah semangat dalam prosesnya,” pesannya.

Melalui pandangan tersebut, Bu Euis berharap mahasiswa arsitektur tidak hanya mampu menghasilkan desain yang indah secara visual, tetapi juga karya yang memiliki identitas, konsep kuat, dan manfaat nyata bagi lingkungan maupun masyarakat.


Share:

Tags: desain arsitektur,konsep desain arsitektur,mahasiswa arsitektur,maket arsitektur,identitas desain arsitektur,dosen arsitektur UPI YAI,Euis Puspita Dewi,tips mahasiswa arsitektur,tugas akhir arsitektur,proses desain arsitektur,pembelajaran arsitektur,studi